DAMPAK PENGGUNAAN TELEPON GENGGAM TERHADAP PERILAKU SISWA SMA NEGERI 6 KENDAR   Leave a comment


DAMPAK PENGGUNAAN TELEPON GENGGAM TERHADAP PERILAKU SISWA SMA NEGERI 6 KENDARI

Oleh :
ANDI MULIA
NIM: G2G108 015

ABSTRAK
Andi Mulia (G2G1 08015): Dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa SMA Negeri 6 Kendari
Masalah dalam penelitian ini adalah:Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dikaji dan diteliti adalah Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa?
Penelitian ini bertujuan untuk medekripsikan dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa SMA Negeri 6 Kendari: (1) Dampak positif dan negatif terhadap perilaku siswa yang hubungannya masalah pendidikan. (2) Dampak positif dan negatif terhadap perilaku siswa yang hubungannya tentang kesehatan. (3) Dampak positif dan negatif terhadap perilaku siswa yang hubungannya kondisi sosial.
Metode penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskritif memberikan penjelasan secara deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diteliti.
Dari hasil penelitian di atas terungkap bahwa secara umum dampak penggunaan telepon genggam masih dalam kategori sedang, ini terlihat dari ukuran pemusatan data seperti: rata-rata skor adalah 132,400; modus 132,00 dan median 132,00; sedangkan penyebaran data seperti standar deviasi (SD) 6,87796, dan variansi 47, 306 dengan skor minimum 116 dan maksimum 145. Ini berarti bahwa penggunaan telepon genggam memberi dampak terhadap perilaku siswa pada kategori sedang atau masih dalam batas kewajaran.
Setelah peneliti melakukan analisis berdasarkan jenis kelamin terungkap bahwa dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa perempuan lebih tinggi jika diperhatikan pemusatan data seperti rata-rata skor 130,9787; modus 132, dan median 132; serta penyebaran data seperti standar deviasi (SD) 7,88346, dan variansi 62,152 dibandingkan dengan dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa laki-laki dengan pemusatan data seperti rata-rata skor 134,4242; modus 132; dan median 133, sedangkan sebaran datanya adalah standar deviasi 4,50021, dan variansi 20, 252. Hasil perbadingan ini berarti bahwa dampak penggunaan telepon genggam pada siswa perempuan lebih cenderung berdampak negatif dibandingkan dengan siswa laki-laki.
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa SMA Negeri 6 Kendari tergolong dalam kategori sedang atau penggunaannya masih dalam batas kewajaran. Sedangkan dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa ditinjau dari jenis kelamin, maka lebih berpotensi dampak negatif terhadap siswa perempuan daripada siswa laki-laki.
Kata kunci: Dampak, Telepon Genggam,Perilaku siswa
ABSTRACT

Andi Mulia (G2G1 08015): The Impact of Hand Phone usage toward students behavior of SMA Negeri 6 Kendari.
The problem of the research is how are impacts of hand phone usage on students behavior?.
The aims of this research to describe the impacts of hand phone usage on students behavior of SMA Negeri 6 Kendari,namely: (1) positgive and negative impacts on students behavior relate with education, negative impacts on students behavior relate with social conditions.
The research method is quantitative research with a descriptive approach. Quantitative research with a descriptive approach provide and explanation in the description, picture, or painting in a systematic, factual and accurate statement of the facts and the relationship phenomenon.
From the above result revealed that the overall impact of cell phone usage is still in the moderate category, this looks like the size of centralized data: the average score is 132.400, mode is 132.00, and median 132.00, while the spread of data such as standard deviation (SD) is 6,87796, and variance 47,306 with a minimum score is 116 and maximum is 145. It means that the use of hand phone affect students behavior in the medium category, or it is still within acceptable limit.
After conducting analysis by sex revealed that the impact of hand phone usage toward women student behavior is higher concentrations observed data such as average score is 62,152.compare to the impact of using hand phone on male students behavior with average is 132, and median is 133. The result of this comparison means that the impact of hand phone usage tends to affect women students more negatively than male students.
Based on the result can be concluded that the impact of hand phone usage on students behavior of SMA Negeri 6 Kendari is categorized still within acceptable limit. While the impact of hand phone usage on students behavior in terms of gender that more potentially negative impact on female students than male students.
Key Words: Impact, Hand Phone, Students Behavior

A. Pendahuluan
Pertumbuhan pengguna telepon genggam di Indonesia sangat luar biasa. Bila total penduduk Indonesia tahun 2009 adalah 245 juta berarti separoh penduduk Indonesia saat ini merupakan pengguna telepon genggam. Dapat dibayangkan, coverage pasar global saja pada 1998 terdapat sekitar 200 juta user seluler di seluruh dunia, tahun 2004 jumlahnya membengkak jadi 1,6 miliar customer. Kemudian, tahun 2006 meningkat lagi menjadi sekitar 2,6 miliar user seluler. Angka ini diprediksi tumbuh 20% menjelang 2015. Rasanya, tidak ada produk maupun perangkat teknologi yang lain mengalahkan teknologi mobile atau telepon genggam dalam Majalah SWA Marketing (SWA Media Inc.)
Telepon genggam tidak lagi menjadi suatu barang mewah di kalangan masyarakat luas. Hal ini merupakan dampak dari keperluan berkomunikasi yang semakin mendesak dan harga telepon genggam yang semakin murah. Namun, hal yang menarik dari kenyataan ini adalah penggunaan telepon genggam yang sudah merebak di kalangan anak-anak, sehingga timbul anggapan bagi mereka perlunya alat komunikasi yang bermobilitas tinggi tersebut
Perkembangan telepon genggam dengan kehidupan masyarakat sangat banyak berpengaruh, salah satu teori yang dikenal sebagai teori Behaviorisme menjelaskan bahwa perkembangan perilaku individu selalu mengikuti aturan stimulus – respons. Stimulus dapat diartikan sebagai hal yang memicu individu untuk berbuat sesuatu, sedangkan respons merupakan reaksi terhadap pemicu/stimulus yang membentuk perilaku dari individu yang bersangkutan. Individu tidak dianggap berperan dalam menentukan perilakunya, karena tingkah laku (respon) memerlukan pengkondisian (stimulus) sebagai pemicu. Tingkah laku tersebut dapat pula tumbuh dari hasil pengamatan lingkungan sekitar.

B. Pembahasan

1. Konsep Teknologi
Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi, karena cepatnya akses informasi di berbagai belahan dunia membuat dunia ini seolah-olah semakin sempit dikarenakan kita dapat melihat apa yang terjadi di Indonesia bahakan dunia, meskipun kita berada di tempat yang berbeda .
Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini, di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi). Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon dan telepon genggam (HP), bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa.
Teknologi adalah “a desain for instrumental action that reduces the uncertainty in cause-effect relationships involve in achieving a desired outcome” Roger (Agung Nugroho, 2010: 2). Teknologi merupakan sebuah perangkat untuk membantu aktivitas kita dan dapat mengurangi ketidakpastian yang disebabkan oleh hubungan sebab akibat yang melingkupi dalam mencapai suatu tujuan.
Teknologi komunikasi sekarang telah berhasil mengintergrasikan teknologi komunikasi, teknologi informasi dan teknologi multimedia atau teknologi telematika. Ketika teknologi tersebut berjalan sendiri-sendiri tentunya dampak yang dihasilkan belum sebesar apabila bersatu seperti sekarang. Bervariatifnya pelayanan baru untuk mendapatkan informasi karena didukung teknologi telekomunikasi menjadi keniscayaan.
Kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Namun, pada sisi lain, pesatnya kemajuan iptek ternyata juga cukup banyak membawa pengaruh negatif. Semakin kuatnya gejala “dehumanisasi”, tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan dewasa ini, merupakan salah satu dampak yang dibawa kemajuan iptek tersebut. Bahkan, sampai tataran tertentu, dampak negatif dari peradaban yang tinggi itu dapat melahirkan kecenderungan pengingkaran manusia sebagai homo-religousus atau makhluk teomorfis.

2. Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “comunication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin comunicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata comunis Dalam kata comunis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward (1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu; human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies-respond to and create messages to adapt to the environment and one another.
Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy (1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu; (1) Komunikator (siapa yang mengatakan?), (2) Pesan (mengatakan apa?), (3) Media (melalui saluran/ channel/media apa?), (4) Komunikan (kepada siapa?), (5) Efek (dengan dampak/efek apa?).
Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.
Menurut lexicographer, komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan (Nurhablisyah 2009). Dari berbagai sumber, dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
Ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, tidak bisa menghindari perspektif dari beberapa ahli yang tertarik pada kajian komunikasi, sehingga definisi dan pengertian komunikasi menjadi semakin banyak dan beragam. Masing-masing mempunyai penekanan arti, cakupan, konteks yang berbeda satu sama lain, tetapi pada dasarnya saling melengkapi dan menyempurnakan makna komunikasi sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi.
Penyalahgunaan terhadap azas manfaat dan nilai guna dari media komunikasi sedang mengancam proses komunikasi manusia karena mentalitas konsumtif dan hedonis yang berdampak pada kesalahan pengambilan keputusan dan pilihan seeara tidak bijaksana terhadap tawaran media komunikasi. Dewasa ini satu orang bisa memiliki dua atau tiga telepon genggam, dua atau tiga nomor telepon genggam. Kalau memiliki telepon genggam yang tidak “gaul” dikatakan ketinggalan zaman
Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan murni (pure science) bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science). Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik dalam memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai pada terciptanya integrasi sosial (Subakri, http://www.hariansumutpos.com).
Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode, sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, (Agus Santosa, http://agsasman3yk.wordpress.com)
Perkembangan teknologi satu sisi memberi kemudahan manusia termasuk anak-anak atau pelajar, namun disisi lain juga mempunyai sisi negatif teterhadap anak-anak. Seperti perkembangan teknologi foto dan video dari telepon genggam yang beredar di internet meningkat jumlahnya. Ini menjadi wajar karena telepon genggam berkamera dan video telah menyandang predikat “HP sejuta umat.” Sebagian besar dari “sejuta umat” adalah kalangan generasi muda hingga berumur 18 tahun merupakan pengadopsi awal (early adopter) dari berbagai produk teknologi. Dengan teknologi ini semakin berkembang kecenderungan mereka membuka materi yang tidak pantas dilihat orang kebanyakan. Hal ini membuat anak menjadi tersangka utama sekaligus korban dari kasus-kasus ini.
Pelaku ataupun korban dalam kasus di atas sesungguhnya hanyalah korban dari sisi negatif teknologi. Semua ini terjadi, secara tidak langsung, atas izin orang tua yang membebaskan pengadopsian teknologi tanpa pendampingan. Banyak bukti sisi negatif teknologi yang tidak disadari beredar di hadapan orangtua.
Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, (http://madziatul.blogspot.com/2009 ) hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.
Selain itu juga dengan internet. Akses internet harus diletakkan di ruang publik untuk mencegah anak menjadi korban predator pedofilia di internet atau perbuatan melanggar hukum yang tidak disadarinya, seperti berbagi file secara ilegal (illegal file sharing). Kita tidak bisa mencegah anak berinteraksi dengan internet karena di dalamnya banyak pula hal yang bermanfaat. Hasil penelitian terakhir pun menyatakan tak ada satu peranti lunak pun yang mampu menggantikan tugas orangtua mengawasi kegiatan anaknya di internet.
Seyogyanya orangtua tidak bersembunyi di balik ketidakmampuan mengadopsi teknologi. Orang tua telah lebih banyak memakan asam garam hidup ini. Teknologi boleh berbeda, tetapi cara manusia menggunakannya masih sama. Dahulu, isu mengenai seseorang berhubungan seks di luar nikah beredar dari mulut ke mulut. Biasanya beredar saat pasangan tersebut putus dan diedarkan oleh pihak yang sakit hati. Kini gosip itu beredar dalam rekaman video ataupun foto. lebih parah lagi, internet mempercepat peredarannya.

3. Konsep Perilaku
Dalam sebuah buku yang berjudul “Perilaku Manusia” Leonard F. Polhaupessy, menguraikan perilaku ádalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Untuk aktifitas ini mereka harus berbuat sesuatu, misalnya kaki yang satu harus diletakkan pada kaki yang lain. Jelas ini sebuah bentuk perilaku.
Dalam buku lain diuraikan bahwa perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktifitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya ádalah tindakan atau aktifitas manusia dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) ádalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar.
Skinner dalam Suryabrata (2000:89) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon. Maka teori Skiner disebut teori “S – O – R” atau Stimulus – Organisme – Respon. Skiner membedakan adanya dua proses.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat di bedakan menjadi dua yaitu: (1) Perilaku tertutup ádalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap yang terjadi belum bisa diamati secara jelas oleh orang lain. (2) Perilaku terbuka adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice).

4. Manusia menurut aliran behaviorisme
Manusia menurut aliran ini adalah homo mechanicus atau perilakunya digerakkan oleh lingkungannya. Manusia berperilaku sebagai hasil belajar yaitu perubahan perilaku akibat pengaruh dari lingkungannya. Dari sini timbul “teori belajar” dan teori “tabula rasa”. Manusia dalam teori tersebut dianggap sebagai kertas putih atau meja lilin ketika lahir artinya manusia belum memiliki “warna mental”. Pada perkembangannya yang menyebabkan berubahnya dan bertambahnya warna mental tersebut adalah pengalaman. Secara singkat maka aliran ini menekankan bahwa perilaku manusia, kepribadian manusia, serta tempramen didasarkan pada pengalaman inderawi (sensory experience).
Konsep perilaku manusia di atas oleh salah tokoh aliran ini Ivan Pavlov disempurnakan dengan metode yang disebut pelaziman klasik . Pada metode ini perilaku manusia disebabkan adanya stimuli yang terkondisi atau bersifat netral dengan stimuli yang tak terkondisikan. Hipotesis tersebut menunjukkan bahwa organisme bisa diajar bertindak dengan pemberian sesuatu rangsangan. Untuk menggambarkan metode ini oleh Pavlov melakukan eksperimen dengan seekor anjing yang dikondisikan dengan stimulus tertentu.
Adalah Setiap rangsangan yang menyebabkan pengulangan suatu respon tingkahlaku yang dikurangi atau dihapuskan sama sekali . Contoh: Anak yang tidak membantu ibu tidak diberi peluang untuk bermain bola dengan teman-temannya sehingga ia akan menghapuskan perilaku yang dapat membuat dirinya tidak dapat bermain bola lagi.
Perilaku manusia menurut aliran ini semakin diperkuat dengan Social Learning Theori atau pembelajaran Sosial. Teori ini dikemukankan oleh Albert Bandura yang mengatakan salah satu sifat manusia ialah meniru (imitate) tingkahlaku atau tindak tanduk orang lain yang diterima masyarakat (socially accepted behaviour) dan juga tingkah laku yang tidak diterima masyarakat. Tingkahlaku yang diterima dan tidak diterima tersebut berbentuk; (a) berbeda antara satu budaya dengan satu budaya yang lain, (b) berbeda antara individu, (c) berbeda menurut situasi.

5. Telpon Genggam
Telepon genggam sering disebut handpone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) yang merupakan perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System for Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access).
Telekomunikasi dalam hal ini dimaksudkan adalah teknik pengiriman atau penyampaian infomasi, dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam kaitannya dengan ‘telekomunikasi’ bentuk komunikasi jarak jauh dapat dibedakan atas tiga macam: (1) Komunikasi Satu Arah (Simplex). Dalam komunikasi satu arah (Simplex) pengirim dan penerima informasi tidak dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama.

6. Perkembangan Telepon Genggam
Dalam kurun waktu 10 tahun sejak lahirnya AMPS sudah terjadi perkembangan yang sangat pesat dengan berbagai penemuan atau inovasi teknologi komunikasi dan, akhir tahun 1990-an munculah teknologi 2G (Generasi Kedua). Perbedaan utama dari teknologi G1 dan G2 adalah G1 masih menggunakan sistem analog, sedangkan G2 sudah menggunakan sistem digital.
Teknologi 2G dapat dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu TDMA (time division multiple access) dan CDMA (code division multiple access). TDMA sendiri berkembang ke dalam beberapa versi, yaitu GSM di Eropa, IDEN di Amerika, DPC diservice yaitu mengirim pesan singkat dengan mengunakan text. Dengan adanya kehadiran teknologi generasi kedua, maka muncullah teknologi selular yang baru yaitu, GSM (Global System for Mobile Communications) suatu system komunikasi wireless 2G.

7. Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Telepon genggam
7.1. Dampak Positif
Telepon genggam sebagai hasil teknologi yang sangat pesat perkembangannya dibanding dengan teknologi lainnya. Hal ini terbukti perkembangan teknologi telepon genggan dari masa kemasa semakin banyak funsinya, dan dilengkapi fitur-fitur menarik. Selain itu juga pengunaannya semakin meluas sampai kepelosok-pelosok, seperti yang dikemukakan hasil survey majalah SWA dengan Indosat pada tahun 2008, pengguna telepon genggam telah mencapai 110 juta, dan tahun 2009 diperkirakan meningkat 70 juta. (Majalah Swa dengan Indosat, 2009)
Banyak funsi dari fitur-fitur telkom genggam yang dapat lakukan, diantaranya digunakan untuk menyimpan informasi, membuat daftar pekerjaan atau perencanaan pekerjaan, mencatat appointment ( janji pertemuan ) dan dapat disertakan reminder ( pengingat waktu ), kalkulator untuk perhitungan dasar sederhana, mengirim dan menerima email, mencari informasi ( berita, hiburan, dan informasi lain ) dari internet, Integrasi ke peralatan lain seperti PDA, Mp3 player, dan GPRS. Dengan lengkapnya fungsi telpon genggam ini dapat membantu penggunanya dalam melakukan berbagai kegiatan.
Penggunaan telepon genggam sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi terbentuk kemudian dipercepat prosesnya melalui suara dan teks atau tulisannya (Brotosiswoyo, 2002). Hal ini berbeda dengan dahulu yang biasa disebut “telepati” (komunikasi antara dua manusia yang tidak tergantung pada tempatnya) dan sudah menjadi perwujudan riil yang biasa, yang dapat dilakukan oleh siapa saja.

7.2. Dampak Negatif Telepon genggam
Selain itu penggunaan ponsel dapat membawa dampak-dampak tertentu, yakni aspek psikologis, sosial, keuangan, kesehatan, kejahatan, bahkan sampai mengancam keselamatan jiwa seseorang.

7.2.1. Aspek Psikologis
Banyaknya pesan melalui SMS yang berisi ajakan-ajakan bersifat rasisme dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contoh yang marak ditemukan adalah pesan yang berisi pemboikotan barang produksi Amerika. Selain itu juga terdapat peredaran pesan teks, gambar, maupun video yang bersifat pornografi. Mudahnya akses keluar masuk pesan tersebut melalui ponsel membawa dampak negatif, terutama untuk generasi muda sekarang ini.
7.2.2. Aspek Sosial
Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon genggam tanpa kabel yang mengungguli telepon kabel dan telepon-radio kian bertambah karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. Berbeda dengan yang disambungkan pada jalur telepon di sebuah gedung atau telepon standar yang bisa dibawa, namun harus dilengkapi kotak baterai besar dengan pemancar dan penerima gelombang radio, ponsel yang ringan dan tampak kompak dapat dibawa didalam saku jaket atau dompet.

8. Meode Penelitian
8.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 6 Kendari, yang dilakukan selama 3 (tiga) bulan, meliputi (1) survey awal, (2) mengajukan judul, (3) mebuat proposal, (4) melakukan penelitian, dan (5) menyusun tesis serta olah data.
8.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskritif memberikan penjelasan secara deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena yang diteliti (Arikunto, 1988:23).
Selanjutnya Arikunto (2000:310) mengatakan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “Apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan yang diteliti.
Jenis penelitian deskriptif di sini adalah untuk melihat, meninjau dan menggambarkan tentang objek yang diteliti apa adanya tanpa melakukan pengontrolan terhadap suatu atau perlakuan dan akhirnya menarik suatu kesimpulan.
Dari uraian pengertian, dan tujuan penelitian kuatitatif deskriptif yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan pengembangan data sederhana bersifat menerangkan atau menjelasakan, yakni mendeskripsikan data tentang fenomena sosial yang diteliti yaitu variable tunggal pengguna telepon genggam dengan dampaknya pada perilaku siswa (baik dampak positif maupun dampak negatif).
Hasil yang diperoleh (data) tersebut kemudian akan diuraikan secara deskripstif mengenai indikator-indikator yang akan diukur yaitu: dampak penggunaan telepon genggam terhadap prilaku siswa SMA Negeri 6 Kendari ditinjau dari faktor penyebabnya sebagai berikut: , (1) Dimensi Sosial, (2) Dimensi pendidikan, dan (3) Dimensi kesehatan.

9. Hasil dan Pembahasan
9.1. Hasil Penelitian
Tabel 1 Hasil Penelitian
N 80
Mean 132.400
Median 132.000
Mode 132.00
Std. Deviation 6.87796
Variance 47.306
Range 29.00
Minimum 116.00
Maximum 145.00
Sum 10592.00

Histogram hasil penelitian

Tabel 2 Hasil Penelitian
N Valid 33
Missing 14
Mean 134.4242
Std. Error of Mean .78339
Median 133.0000
Mode 132.00
Std. Deviation 4.50021
Variance 20.252
Range 17.00
Minimum 128.00
Maximum 145.00
Sum 4436.00

Dari tabel dan histogram di atas diperoleh hasil; rata-rata skor adalah 132,400; modus 132,00 dan median 132,00; sedangkan standar deviasi (SD) 6,87796, dan variansi 47, 306 dengan skor minimum 116 dan maksimum 145, yang berati bahwa dampak penggunaan telepon genggam dalam kategori sedang atau pada batas kewajaran.

9.2. Pembahasan hasil Penelitian
Dari hasil penelitian di atas terungkap bahwa secara umum dampak penggunaan telepon genggam masih dalam kategori sedang, ini terlihat dari ukuran pemusatan data seperti: rata-rata skor adalah 132,400; modus 132,00 dan median 132,00; sedangkan penyebaran data seperti standar deviasi (SD) 6,87796, dan variansi 47, 306 dengan skor minimum 116 dan maksimum 145. Ini berarti bahwa penggunaan telepon genggam memberi dampak terhadap perilaku siswa pada kategori sedang atau masih dalam batas kewajaran.
Setelah peneliti melakukan analisis berdasarkan jenis kelamin terungkap bahwa dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa perempuan lebih tinggi jika diperhatikan pemusatan data seperti rata-rata skor 130,9787; modus 132, dan median 132; serta penyebaran data seperti standar deviasi (SD) 7,88346, dan variansi 62,152 dibandingkan dengan dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa laki-laki dengan pemusatan data seperti rata-rata skor 134,4242; modus 132; dan median 133, sedangkan sebaran datanya adalah standar deviasi 4,50021, dan variansi 20, 252. Hasil perbadingan ini berarti bahwa dampak penggunaan telepon genggam pada siswa perempuan lebih cenderung berdampak negatif dibandingkan dengan siswa laki-laki. Hal ini diperkuat standar rata-rata skor perempuan rendah standar deviasinya tinggi, dibandingkan dengan siswa laki-laki.
Pada pembahasan di atas, mengungkapkan bahwa dampak penggunaan telepon genggam dalam kategori sedang, sehingga perlu dilakukan tindakan prefentif para pihak yang berwenang untuk melakukan pembinaan kepada siswa dalam kegiatan kuliah umum pada penerimaan siswa baru tentang dampak yang ditimbulkan telepon genggam, utamanya pada dampak negatif jika digunakan bukan pada tempat dan fungsinya. Selain itu juga guru sebagai orang paling dekat dengan siswa perlu membuat inovasi baru dalam pemanfaatan telepon genggam dalam pembelajaran seperti dengan pembelajaran berbasis M-Learning.
Secara teoritik dampak telepon genggam adalah suatu pengaruh yang kuat atas penggunaan telepon genggam untuk mendatangkan akibat yang diharapkan (positif) dan akibat yang tidak diharapkan (negatif) dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian ini sesuai teori tentang perilaku oleh dikemukan oleh Skinner (Suryabrata 2000:89) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap siswa sebagai dampak penggunaan telepon genggam.
Selain pendapat di atas kaum behavioris berpendirian manusia dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman; dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Ini menunjukkan bahwa perliaku positif ataupun negatif sangat dipengaruhi oleh kebutuhan. Pada dasarnya sebagian orang, siswa khususnya telepon genggam bukanlah sebagai kebutuhan melainkan baru merupakan tahap keinginan untuk memiliki yang pada akhirnya pemanfaatannya tidak sesuai tujuan telepon genggam itu sendiri. Dari hasil penelitian terlihat bahwa dampak telepon genggam bermacam-macam seperti berdampak pada perilaku ditinjau dari dimensi pendidikan, dimensi sosial dan dimensi kesehatan.

10. Penutup
10.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa SMA Negeri 6 Kendari tergolong dalam kategori sedang atau penggunaannya masih dalam batas kewajaran. Sedangkan dampak penggunaan telepon genggam terhadap perilaku siswa ditinjau dari jenis kelamin, maka lebih berpotensi dampak negatif terhadap siswa perempuan daripada siswa laki-laki.

10.2. Saran
Dari hasil dan manfaat penelitian di atas maka disarankan:
1. Pada pihak pengambil kebijakan agar penggunaan telepon genggam sesuai dengan peruntukannya baik di sekolah maupun di luar sekolah, maka perlu dilakukan kuliah umum di setiap sekolah pada saat penerimaan siswa baru.
2. Disarankan kepada orang tua siswa agar sedapat mungkin mengontrol penggunaan telepon genggam anaknya.
3. Disarankan kepada guru-guru umumnya di SMA Negeri 6 Kendari khususnya agar membuat inovasi baru dengan memanfaatkan telepon genggam sebagai media pembelajaran atau merangcang pembelajaran berbasis M-Learning.
4. Disarankan kepada guru yang mengajar agar tidak membawa telepon genggam ke sekolah atau mematikan telepon genggamnya pada saat pelajaran berlangsung agar tidak mengganggu konsentrasi belajar.
1. Ketika berada dirumah sebaiknya mengatur waktu sebaik-baiknya antara belajar dan menggunakan telepon genggam.
2. Belajar sebaik mungkin agar tidak sampai menggunakan telepon genggam saat ujian.
3. Menghindari mengakses situs porno atau mendownload konten-konten porno dari telepon genggam.
4. Menggunakan telepon genggam jika diperlukan dan untuk hal-hal yang penting saja.
5. Memperbanyak konten-konten religi pada telepon genggam.
6. Memberi kode pengaman pada telepon genggam jika diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Rianto, 1991. Langkah-langkah Penelitian Sosial. Jakarta : Arcan
____, Rianto. 2005. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta : Granit
Agoeng Noegroho, 2010. Teknologi Komunikasi, Graha Ilmu Yogyakarta
Anonim, 2003. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka Pusat Bahasa Depdiknas
Anonim, 2008. Dampak kemajuan Iptek terhadap kehidupan manusia dan sistem pendidikan. (http://smp5trk.com)
Anonim, 2008. Ponsel dan Taraf Hidup Manusia. (http://id.shvoong.com/)
Anonim, 2009. Faktor Personal Yang Mempengaruhi Perilaku Manusia. (http://jurusankomunikasi.blogspot.
Anonim, 2009. Faktor-faktor Mempengaruhi Prilaku Manusia, (http://jurusankomunikasi.blogspot.com)
Anonim, 2010. Informasi dan Telekomunikasi , (http://id.wikipedia.org/wiki/)
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta
Aruman, 2009. SWA majalah, MIX – Integrated Marketing Communications, WWW. SWADIGITAN.COM
Ashadi Siregar, 2001. Negara, Masyarakat dan Teknologi Informasi, http://ashadisiregar.files.wordpress.com.
Bogdan, C. Robert and Biklen. Sari Kopp. 1982. Qualitative Research For Education : an Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.
Dedi Muliayana, 2009. “ Pengaruh Penggunaan Telepon genggam Terhadap Interaksi Sosial Pelajar” (http://demoel.wordpress.com).
Dephy, 2009. Dampak HP Bagi Pelajar. http://dephy1993.wordpress.com/
Donny B, 2008. Perkembangan Teknologi Komunikasi. http://pertekkom.blogdetik.comhttp://myfortuner.files.wordpress.com/2010/07/picture1.jpg?w=65

About these ads

Posted July 24, 2010 by www.latahang.com in Uncategorized

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,172 other followers

%d bloggers like this: