4. Konsep Dasar Pembelajaran   Leave a comment

TEORI BELAJAR YANG MELANDASI PROSES PEMBELAJARAN
Oleh:
La Tahang
Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan
yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang
guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik
guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang
diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi
kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan
belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik. Untuk mampu melakukan proses
pembelajaran ini si guru harus mampu menyiapkan proses pembelajarannya.
Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus
memperhatikan teori-teori yang melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses
pembelajaran. Berikut ini kita akan membahas teori-teori belajar dan implikasinya dalam proses
pembelajaran. Diantaranya :

1. Teori Gagne
Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk
menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat
harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi,
ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak.
Menurut Gagne ada 8 tipe belajar, yaitu:
– belajar isyarat;
– belajar stimulus respon
– belajar merangkaikan
– belajar aosisasi verbal
– belajar diskriminasi
– belajar konsep
– belajar prinsip/hukum
– belajar pemecahan masalah
Kemampuan manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne dibedakan menjadi 5 kategori,
yaitu : (a) keterampilan intelektual; (b) informasi verbal; (c) strategi kognitif; (d) keterampilan

Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran
Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus
memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi (1) menarik perhatian, (2) menjelaskan
tujuan, (3) mengingat kembali apa yang telah dipelajari, (4) memberikan materi pelajaran, (5)
memberi bimbingan belajar, (6) memberi kesempatan, (7) memberi umpan balik tentang benar
tidaknya tindakan yang dilakukan, (8) menilai hasil belajar, dan (9) mempertinggi retensi dan
transfer.

2. Teori Piaget
Prinsip teori Piaget, (a) manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan
fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa; (b) pengetahuan datang melalui
tindakan; (c) perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif
memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar sebagai berikut: (a)
priode sensori motor (0-2 tahun); (b) priode praoperasional (2-7 tahun); (c) priode operasional
konkrit (7-11 tahun); (d) priode operasi formal (11-15 tahun).
Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu :
– skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep;
– asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah
dimiliki oleh seseorang;
– akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok
kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan
– equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa mengenal informasi
baru
Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu :
– Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada
hasilnya tetapi juga prosesnya
– mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam
pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan
– memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam
bentuk kelompok kecil
– peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa
dapat memperoleh pengalaman yang luas
3. Teori Bruner
Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner mengemukakan
bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu:
(a)enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya; (b) iconic
representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang
konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan (c) simbolic reprentation, anak telah memiliki
pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan
pendapatnya dengan bahasa.
Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam
perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran
berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir
dalam yang
berbentuk pikiran. Dengan kata lain proses berfikir adalah akibat bahasa dalam yang
berlangsung dalam benak siswa.

Bruner juga berpendapat bahwa kesiapan adalah penguasaan keterampilan sederhana yang
memungkinkan seseorang menguasai keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh
menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang
dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak. Berhubungan dengan proses belajar Bruner
dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah : (a) menghadapkan anak pada
suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; (b) anak akan berusaha
membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan (c)
dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali
struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya.
Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan
menyingkirkan informasi yang tak perlu.
4. Teori Ausubel
Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak
efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif.
Penekanannya pada ekpositorik .Ausubel menekankan pengajaran verbal yang
bermakna (meaningful verbal instruction).
Menurut Ausubel, setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang membentuk dasar
sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser).
Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan
menjadi sitem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual
ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan
masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah
mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk
kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya.

5. Teori Vygotsky
Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anak-anak bekerja atau
belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada
dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal
development . Zone of
proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas
kemampuan yang sudah dimilikinya. Selanjunta Vygorsky lebih menekankan
scaffolding
, ytiu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang
kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk
mengambil alih tanggung jawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya.

6. Teori Konstruktivis
Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang
dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah: (a) siswa secara aktif membangun
pengetahuannya sendiri; (b) agar benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan
pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk
dirinya sendiri; (c) belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau
absorbsi; dan (d) belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara
berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru.
Menurut Suradijono dalam Herawati Susilo (2000), pembelajaran adalah kerja mental aktif,
bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Guru berperanan memberi dukungan,
tantangan berfikir,melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran
Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :

- memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar hasilnya
saja.
– Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam kegiatan
pembelajaran
– Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke sederhana, dari pada
bottom-up dari yang sederhana bertahap berkembang ke komplek
– Menerapkan pembelajaran koperatif
Illustrasi pada gambar berikut akan memperlihatkan suasana proses belajar yang
merupakan implikasi teori kontrusktivisme.

Posted August 6, 2011 by www.latahang.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,048 other followers

%d bloggers like this: