BILAMANA PROSES PEMBELAJARAN MENJADI BERMAKNA BAGI SISWA? SUATU TEORI BELAJAR DARI DAVID P. AUSUBEL   Leave a comment


Piaget telah dikenal luas sebagai salah seorang ahli perkembangan
kognitif. Sebagai penghargaan kepadanya, Wadsworth (1984:v) menulis:
“To Jean Piaget and Stephen Davol – Two men who understood children,
development, and how to help others learn.” Teori-teori belajar yang
dikemukakan Piaget, Brownel, Skemp, Ausubel ataupun yang lainnya
memang dapat dipakai para guru untuk membantu siswanya belajar
dengan baik. Teori-teori yang ditulis Piaget telah didasarkan pada hasil
interviu klinis dengan beberapa orang anak, termasuk dengan dua
putrinya sendiri. Awalnya, anak tersebut dihadapkan dengan suatu
tugas atau persoalan. Selanjutnya, si anak diminta mengungkapkan
secara lisan hal-hal yang sedang dipikirkannya. Pertanyaan-pertanyaan
berikutnya dapat diajukan penginterviu yang bertindak sebagai peneliti
sedemikian rupa sehingga si anak tersebut dapat menjelaskan dan
mengungkapkan secara lebih jauh dan terinci alasan-alasan di balik
pendapatnya itu (Resnick & Ford, 1981).
Sejalan dengan itu, Shadiq (1999) telah belajar dari seorang anak kecil,
Nani, yang telah memberi nama “batu lengket” untuk magnet karena
magnet tersebut mirip sekali dengan batu-batuan yang ada dibelakang
rumahnya. Tentunya, pendapat itu salah karena tidak sesuai dengan
pengetahuan Fisika. Meskipun begitu, si Nani akan tetap menganggap
pendapatnya itu benar. Itulah sebabnya, setiap anak selalu dengan
2
yakin dan mantap akan menceritakan jalan pikirannya sendiri, tidak
peduli pendapatnya tersebut benar atau salah, sehingga lebih mudah
untuk dipelajari orang-orang disekitarnya seperti yang sudah dilakukan
Piaget. Tulisan tentang ‘belajar bermakna’ sebagai lawan dari ‘belajar
hafalan’ atau ‘belajar dengan membeo’ berikut ini akan dimulai dengan
ceritera tentang si Nani lagi. Tentunya, si Nani yang waktu itu berlagak
seperti seorang guru TK terhadap bapaknya tidak akan menyadari jika
dia dianggap seperti burung beo oleh bapaknya.
Belajar dengan Membeo?
Pada suatu hari, Fitriani Fajar yang waktu itu berumur sekitar 4,5
tahun dan masih duduk di bangku TK bertanya kepada bapaknya. Dari
nada bicaranya tergambar bahwa ia ingin menguji apakah bapaknya
sudah tahu tentang penjumlahan dua bilangan yang baru saja ia
pelajari dari temannya. Percakapan mereka adalah sebagai berikut (N =
Nani, B = Bapaknya).
N: “Bapak! Dua tambah dua berapa? Ayo …!”
B: “Menurut Nani?”
N: “Bapak dulu.”
B: “Oke. Oke. Dua tambah dua sama dengan empat.”
N: “Betul.” Ia berlagak seperti guru TK yang membenarkan jawaban
siswanya.
B: “Tahu dari mana bahwa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Dari Ari. Ari tahu dari bapaknya.”
B: “Nani percaya?”
N: “Ya. Bapaknya Ari kan pintar.”
B: “Kenapa dua tambah dua sama dengan empat?”
N: “Ya karena dua tambah dua sama dengan empat.”
B: “Kalau satu tambah dua?”
3
N: “Nani belum tahu.”
B: “Kenapa?”
N: “Ari belum memberi tahu. Mungkin bapaknya belum mengajarinya.”
B: “Kalau satu tambah satu?”
N: “Dua.”
B: “Ah masak?”
N: “Tiga … tiga … tiga … .”
B: “Yang benar. Masak tiga.”
N: “Empat … empat … ! Lima …! Tujuh … tujuh … . Kalau begitu
berapa?”
B: “Ya dua.”
N: “Nani kan sudah bilang dua tadi. E … bapak menipu.”
Nani telah menunjukkan kepada kita bahwa ia telah mampu dengan
benar atau kompeten menentukan nilai dari penjumlahan 2 + 2 ataupun
1 + 1. Namun, apakah ia memahami mengapa dan darimana 2 + 2 = 4
dan 1 + 1 = 2? Ketika ia ditanya bapaknya mengapa 2 + 2 = 4?, ia
menjawab: ”Ya karena 2 + 2 = 4,” tanpa alasan yang jelas. Artinya, si
Nani hanya meniru pada apa yang diucapkan teman sebayanya yaitu si
Ari. Tidaklah salah jika ada orang yang lalu menyatakan bahwa si Nani
telah belajar dengan membeo. Seperti halnya seekor burung beo yang
dapat menirukan ucapan tertentu namun sama sekali tidak mengerti isi
ucapannya tersebut, maka seperti itulah si Nani yang dapat menjawab
bahwa 2 + 2 adalah 4 namun ia sama sekali tidak tahu arti 2 + 2 dan
tidak tahu juga mengapa hasilnya harus 4. Jika si Ari, temannya,
menyatakan 2 + 3 = 5 maka sangat besar kemungkinannya jika si Nani
akan mengikutinya. Cara belajar dengan membeo seperti yang telah
dilakukan si Nani tadi disebut dengan belajar hafalan (rote learning) oleh
David P Ausubel (Orton, 1987).
4
Mengapa Belajar Hafalan Harus Dihindari?
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah apa yang dimaksud dengan
belajar hafalan (rote learning). Ausubel menyatakan hal berikut
sebagaimana dikutip Bell (1978: 132): “…, if the learner’s intention is to
memorise it verbatim, i,e., as a series of arbitrarily related word, both the
learning process and the learning outcome must necessarily be rote and
meaningless”. Intinya, jika seorang anak, contohnya si Nani,
berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu
dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya
dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali
baginya. Contoh lain yang dapat dikemukakan tentang belajar hafalan
ini adalah beberapa siswa SD kelas 1 ataui 2 yang dapat mengucapkan:
“Ini Budi. Ini Ibu Budi,” namun ia tidak dapat menentukan sama sekali
mana yang “i” dan mana yang “di”. Contoh lain dari belajar menghafal
adalah siswa yang dapat mengingat dan menyatakan rumus luas
persegipanjang adalah l = p× l, namun ia tidak bisa menentukan luas
suatu persegi panjang karena ia tidak tahu arti lambang l, p, dan l.
Salah satu kelemahan dari belajar hafalan atau belajar membeo telah
ditunjukkan Nani di mana jawaban yang benar, yaitu 1 + 1 = 2, diubah
dengan jawaban yang lain ketika jawaban tersebut pura-pura dianggap
sebagai jawaban yang salah oleh bapaknya. Intinya, si Nani tidak
memiliki dasar yang kuat untuk meyakinkan dirinya sendiri, apalagi
meyakinkan orang lain bahwa 1 + 1 = 2. Lebih celaka lagi kalau
temannya tadi mengajari Nani bahwa 1 + 1 = 4 dan 2 + 2 = 6. Tidak
mustahil jika ia mengikutinya. Di samping itu, ia tidak bisa menjawab
soal baru seperti 1 + 2 maupun 2 + 1 karena temannya belum mengajari
hal itu.
5
Materi pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah
namun merupakan pengetahuan yang saling berkait antara
pengetahuan yang satu dengan pengetahuan lainnya. Seorang anak atau
siswa tidak akan memahami pengertian penjumlahan dua bilangan jika
ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1”
menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya
kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada
banyaknya sesuatu yang perpasangan seperti banyaknya mata, telinga,
kaki, …dan seterusnya. Di samping itu, sering terjadi, ketika sedang
menghitung sesuatu, tangan sang anak kecil masih ada di batu ke-4
namun ia sudah mengucapkan “tiga”, “lima”, atau malah “enam”.
Kesalahan sepele seperti ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah
dua bilangan. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering
meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh.
Bagaimana dengan Belajar Bermakna?
Dari apa yang dipaparkan di atas jelaslah bahwa untuk dapat
menguasai materi Matematika, seorang anak harus menguasai beberapa
kemampuan dasar lebih dahulu. Setelah itu, si anak harus mampu
mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang
sudah dipunyainya, sehingga proses pembelajarannya menjadi
bermakna. Karenanya, Ausubel menyatakan hal berikut sebagaimana
dikutip Orton (1987:34): “If I had to reduce all of educational psychology
to just one principle, I would say this: The most important single factor
influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and
teach him accordingly.” Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki
siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses
pembelajaran.
6
Untuk menjelaskan tentang belajar bermakna ini, perhatikan tiga
bilangan berikut. Menurut Anda, dari tiga bilangan berikut:
(a) 50.471.198
(b) 54.918.071
(c) 17.081.945
manakah yang lebih mudah dipelajari atau diingat para siswa? Seorang
siswa dapat saja mengingat ketiga bilangan tersebut yaitu dengan
mengucapkan bilangan tersebut berulang-ulang beberapa kali. Namun
sebagai warga bangsa Indonesia tentunya Bapak dan Ibu Guru akan
meyakini bahwa bilangan (c) yaitu 17.081.945 merupakan bilangan yang
paling mudah dipelajari jika bilangan tersebut dikaitkan dengan tanggal
17 – 08 – 1945 yang merupakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Proses pembelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan
puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi
siswa hanya jika si siswa, dengan bantuan gurunya, dapat
mengaitkannya dengan tanggal keramat 17 Agustus 1945 yang sudah
ada di dalam kerangka kognitifnya. Bilangan (b) yaitu 54.918.071 akan
lebih mudah dipelajari siswa daripada bilangan (a) yaitu 50.471.198
karena bilangan (b) didapat dari tanggal 17–08–1945 dalam urutan
terbalik yaitu 5491–80–71. Bilangan (a) merupakan bilangan yang paling
sulit untuk dipelajari karena aturan atau polanya belum diketahui.
Contoh di atas menunjukkan bahwa suatu proses pembelajaran akan
lebih mudah dipelajari dan dipahami siswa jika para guru mampu dalam
memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa
dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang
sudah dimilikinya. Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful
learning) yang telah digagas David P Ausubel.
7
Penutup
Seorang guru dapat belajar dari para siswa di kelasnya tentang caracara
yang dapat dilakukannya untuk membantu siswanya belajar. Hal
tersebut dapat terjadi hanya jika Bapak dan Ibu Guru mau menggali,
menyelidiki lebih jauh, serta mau mendengarkan dengan tekun
jawaban-jawaban mereka. Dari Nani, seorang siswa TK, kita bisa belajar
tentang belajar dengan ‘membeo’ atau belajar hafalan (rote learning) yang
tidak akan bermakna (meaningless) bagi para siswa. Di kelas, Bapak dan
Ibu akan menemui siswa-siswa yang belajar dengan cara seperti itu.
Belajar hafalan akan terjadi jika para siswa tidak mampu mengaitkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang lama. Tugas gurulah
untuk memberi kemudahan bagi para siswanya sehingga mereka dapat
dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan barunya
dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam pikirannya. Belajar
seperti itulah yang kita harapkan dapat terjadi di kelas-kelas di
Indonesia, belajar bermakna yang telah digagas David P. Ausubel.
Daftar Pustaka
Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics. Iowa: WBC
Orton, A (1987). Learning Mathematics. London: Casell Educational
Limited
Resnick, L.B. Ford, W.W. (1981). The Psychology of Mathematics for
Instructions. New Jersey: LEA.
Shadiq, Fadjar (1999). Implikasi konstruktivisme dalam proses
pembelajaran. Buletin Pelangi Pendidikan 2(1).
Wadsworth, B.J. (1984). Piaget Theory of Cognitive and Affective
Development (3rd Ed). New York: Longman.

Posted August 4, 2010 by www.latahang.com in Uncategorized

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: