6. Pembelajaran dan Penilaian   Leave a comment

“> EVALUASI HASIL BELAJAR – Power Point Klik di bawah

PROSES PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN HASIL BELAJAR

1. Sistem Pembelajaran

Secara umum, sistem perkuliahan menggunakan satuan waktu semester yang dilakukan dalam bentuk tatap muka sebanyak 16 kali di kelas, termasuk diantaranya adalah ujian tengah dan ujian akhir semester. Dosen yang ditugaskan sebagai pengampu matakuliah diwajibkan membuat Rencana Pembelajaran (RP) yang akan dilaksanakan selama satu semester. RP ini meliputi uraian mengenai pokok bahasan, metode dan hasil pembelajaran yang diharapkan, serta indikator penilaian hasil belajar yang akan diterapkan.
Pembelajaran dilaksanakan melalui kuliah/tatap muka, penulisan makalah individual dan presentasi serta diskusi di hadapan dosen dan mahasiswa peserta matakuliah yang bersangkutan. Melalui metode belajar seperti ini, mahasiswa diharapkan dapat menghilangkan iklim menerima begitu saja pandangan atau pendapat mereka yang dianggap pakar. Dengan demikian, mahasiswa dituntut menangani bidang telaah pada ujung tombak disiplin ilmunya, suatu wilayah yang dicirikan oleh titik pandang yang berbeda dan bahkan sering kali saling berlawanan.
Melalui presentasi makalah/tugas individual diikuti diskusi, mahasiswa diharapkan belajar untuk mengajukan pertanyaan mengenai apa yang mereka baca, dengar dan tulis dengan cara yang tajam (rigorous) dan tidak berat sebelah. Mereka harus memelihara standar kriteria pembuktian yang tinggi, dan bersedia serta berhasrat besar untuk menguji pendapatnya di dalam forum sejawat dan teman sekelas pada umumnya. Dengan cara ini pula, mahasiswa mengasah keterampilannya, belajar terlibat dan berkontribusi pada diskusi yang berlangsung terus menerus untuk menetapkan konsensus mutakhir dalam suatu bidang.
Berdasarkan data monitoring perkuliahan, tampak bahwa rata-rata persentase kehadiran dosen dalam perkuliahan pada tahun terakhir (2008/2009) mencapai 100%. Tingkat kehadiran dosen yang maksimal tersebut terjadi sejak diterapkannya sistem monitoring perkuliahan yang dievaluasi secara teratur setiap bulan.
Misalnya, jika pada akhir bulan pertama seorang dosen tatap mukanya kurang dari yang seharusnya, maka di samping hal tersebut akan tercatat secara administratif pada PS, Pimpinan Fakultas melalui Pembantu Dekan I Bidang Akademik dan KPS akan memberikan peringatan lisan maupun tertulis kepada dosen yang bersangkutan. Adanya evaluasi perkuliahan yang teratur setiap bulan, ternyata cukup efektif untuk meningkatkan frekuensi kehadiran dosen di kelas.
Meskipun demikian, perlu digarisbawahi bahwa capaian tujuan kurikulum baik dari aspek metodologi dosen dalam mengajar maupun kesesuaian substansi yang diajarkan dengan kurikulum, pelaksanaan proses pembelajaran di PS masih belum dapat dipetakan profilnya. Ini disebabkan oleh belum dilakukannya evaluasi secara komprehensif terhadap hasil monitoring perkuliahan dosen.
Untuk efisiensi dan produktivitas pembelajaran sejumlah dosen mulai memanfaatkan teknologi informasi dalam perkuliahan, misalnya menantang mahasiswa untuk mencari sumber-sumber pembelajaran di internet. Dosen juga mulai melakukan bimbingan disertasi melalui e-mail yang bersangkutan.

2. Penilaian Kemajuan dan Hasil Belajar

a. Penilaian Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar (learning outcome) dilakukan berdasarkan bobot dan indikator capaian yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembelajaran (RP) setiap matakuliah.
Pemberian nilai hasil belajar pada akhir semester adalah gabungan nilai dari semua bentuk penilaian selama semester berjalan. Penilaian dilakukan oleh tim dosen pengasuh mata kuliah dalam bentuk angka untuk selanjutnya dikonversikan dalam bentuk huruf oleh dosen koordinator/penanggung jawab. Adapun pembobotan masing-masing bentuk penilaian untuk memperoleh nilai kumulatif di akhir semester dan nilai lulus diserahkan kepada masing-masing dosen.
Nilai hasil belajar dinyatakan dengan huruf yaitu A, A minus, B, B minus, C dan E, dengan kesetaraan sebagai berikut:

Tabel 16
Kesetaraan Nilai Hasil Belajar Mahasiswa

Nilai Angka Nilai Mutu Nilai Konversi
> 90 A 4,00
86 – 90 A- 3,50
81 – 85 B 3,00
76 – 80 B- 2,50
70 – 75 C 2,00
90 (A), >85 – 90 (A minus), >80–85 (B), >75-80 (B minus) dan ≤75 (E). Nilai A dan B adalah nilai lulus dan Nilai E adalah nilai tidak lulus.
Tahap terakhir adalah ujian promosi yang dilaksanakan dalam sidang terbuka dan dipimpin oleh dekan. Ujian ini berlangsung paling lama dua jam.
Untuk tugas akhir (disertasi), dilakukan penilaian pada setiap tahap, yaitu seminar usulan penelitian dan seminar hasil penelitian masing-masing dengan proporsi 10%, ujian tertutup (prapromosi) 50%, dan ujian terbuka (promosi) 30%.
Penilaian tugas akhir (disertasi) menggunakan format baku, yaitu seminar usulan penelitian, seminar hasil penelitian, ujian tertutup atau prapromosi dan ujian terbuka atau promosi doktor. Kecuali pada ujian terbuka atau (promosi), penilaian disertasi ditujukan pada naskah (sebelum pelaksanaan) dan terhadap pelaksanaan seminar/ujian. Hasil penilaian masing-masing tahap direkap dan dikumulasikan dengan nilai seluruh matakuliah yang dilulusi untuk menetapkan predikat kelulusan (yudisium) setiap mahasiswa.
4. Mahasiswa Putus Studi
Mahasiswa dinyatakan putus studi apabila mengundurkan diri atas prakarsa sendiri, alasan akademik, dan pelanggaran hukum. Mahasiswa yang mengundurkan diri atas prakarsa sendiri harus mengajukan surat pernyataan putus studi secara tertulis.
Putus studi karena alasan akademik apabila:
a. Evaluasi akhir semester 1 dengan IPK tidak mencapai 3,0;
b. Evaluasi 2 semester pertama pada akhir semester 2, IPK tidak menca-pai 3,25;
c. Evaluasi akhir setelah ujian kualifikasi IPK tidak mencapai 3,25;
d. Tidak lulus ujian kualifikasi setelah diberi kesempatan 2 kali ujian.
Mahasiswa putus studi karena melakukan tindak pidana dan melanggar ketentuan yang berlaku, akan ditetapkan setelah terbukti dan diputuskan oleh pihak yang berwenang.
Untuk mengantisipasi mahasiswa putus studi karena melampaui masa studi yang berlaku (10 semester), PPs akan memberikan peringatan selambat-lambatnya 1 semester sebelum batas akhir masa studi yang bersangkutan.
Mulai tahun 2004/2005 sampai 2008/2009, jumlah mahasiswa putus studi mencapai 6 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa yang aktif (terdaftar) pada periode tersebut yaitu 110 orang, maka persentase mahasiswa yang putus studi relatif kecil, hanya 5,45% (Tabel 5). Meskipun proporsi mahasiswa yang putus studi relatif kecil, namun jika hal ini tidak diantisipasi, maka akan berdampak negatif terhadap kinerja PS. Jika ditelusuri lebih rinci, maka sebahagian besar mahasiswa yang putus studi ternyata disebabkan oleh masalah keuangan dan hanya relatif sedikit yang putus studi karena masalah akademik.

Posted August 6, 2011 by www.latahang.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: