7. Pemb. Kooperatif   Leave a comment

Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai penelitian,
tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar mahasiswa, membentuk
hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan
akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling
ketergantungan positif di antara mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap
mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat
pada mahasiswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan
saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif
mahasiswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat
tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif
memungkinkan semua mahasiswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang
relatif sama atau sejajar.
Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001),
yaitu; (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Group Investigation, (3)
Jigsaw, dan (4) Structural Approach. Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancang
untuk kelas-kelas rendah adalah; (1) Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8
(setingkat TK sampai SD), dan Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan pada
pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; (1) belajar bersama dengan teman, (2)
selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) saling mendengarkan pendapat
di antara anggota kelompok, (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar
dalam kelompok kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7)
keputusan tergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif (Stahl, 1994). Senada
dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1984) serta Hilke (1990) mengemukakan
ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah; (1) terdapat saling ketergantungan yang positif
2
di antar anggota kelompok, (2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, (3)
heterogen, (4) berbagi kepemimpinan, (5) berbagi tanggung jawab, (6) menekankan pada
tugas dan kebersamaan, (7) membentuk keterampilan sosial, (8) peran guru/dosen
mengamati proses belajar mahasiswa, (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok.
Proses belajar terjadi dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang anggota), bersifat
heterogen tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan akademik, jender, suku, maupun
lainnya.
Prinsip Dasar
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang
diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar mahasiswa. Pendekatan yang
dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif. Beberapa pendekatan
tersebut diintegrasikan dimaksudkan untuk menghasilkan suatu model pembelajaran yang
memungkinkan mahasiswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Belajar
aktif, ditunjukkan dengan adanya keterlibatan intelektual dan emosional yang tinggi
dalam proses belajar, tidak sekedar aktifitas fisik semata. Mahasiswa diberi kesempatan
untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat dan idenya, melakukan eksplorasi terhadap
materi yang sedang dipelajari serta menafsirkan hasilnya secara bersama-sama di dalam
kelompok. Mahasiswa dibebaskan untuk mencari berbagai sumber belajar yang relevan.
Kegiatan demikian memungkinkan mahasiswa berinteraksi aktif dengan lingkungan dan
kelompoknya, sebagai media untuk mengembangkan pengetahuannya.
Pendekatan konstruktivistik dalam model pembelajaran kooperatif dapat mendorong
mahasiswa untuk mampu membangun pengetahuannya secara bersama-sama di dalam
kelompok. Mereka didorong untuk menemukan dan mengkonstruksi materi yang sedang
dipelajari melalui diskusi, observasi atau percobaan. Mahasiswa menafsirkan bersamasama
apa yang mereka temukan atau mereka bahas. Dengan cara demikian, materi
pelajaran dapat dibangun bersama dan bukan sebagai transfer dari dosen. Pengetahuan
dibentuk bersama berdasarkan pengalaman serta interaksinya dengan lingkungan di
dalam kelompok belajar, sehingga terjadi saling memperkaya diantara anggota kelompok.
Ini berarti, mahasiswa didorong untuk membangun makna dari pengalamannya, sehingga
3
pemahaman terhadap fenomena yang sedang dipelajari meningkat. Mereka didorong
untuk memunculkan berbagai sudut pandang terhadap materi atau masalah yang sama,
untuk kemudian membangun sudut pandang atau mengkonstruksi pengetahuannya secara
bersama pula. Hal ini merupakan realisasi dari hakikat konstruktivisme dalam
pembelajaran.
Pendekatan kooperatif mendorong dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
trampil berkomunikasi. Artinya, mahasiswa didorong untuk mampu menyatakan
pendapat atau idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain dan menanggapinya dengan
tepat, meminta feedback serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan baik.
Mahasiswa juga mampu membangun dan menjaga kepercayaan, terbuka untuk menerima
dan memberi pendapat serta ide-idenya, mau berbagi informasi dan sumber, mau
memberi dukungan pada orang lain dengan tulus. Mahasiswa juga mampu memimpin dan
trampil mengelola kontroversi (managing controvercy) menjadi situasi problem solving,
mengkritisi ide bukan persona orangnya.
Model pembelajaran kooperatif ini akan dapat terlaksana dengan baik jika dapat
ditumbuhkan suasana belajar yang memungkinkan diantara mahasiswa serta antara
mahasiswa dan dosen merasa bebas mengeluarkan pendapat dan idenya, serta bebas
dalam mengkaji serta mengeksplorasi topik-topik penting dalam kurikulum. Dosen dapat
mengajukan berbagai pertanyaan atau permasalahan yang harus dipecahkan di dalam
kelompok. Mahasiswa berupaya untuk berpikir keras dan saling mendiskusikan di dalam
kelompok. Kemudian dosen serta mahasiswa lain dapat mengejar pendapat mereka
tentang ide-idenya dari berbagai perspektif. Dosen juga mendorong mahasiswa untuk
mampu mendemonstrasikan pemahamannya tentang pokok-pokok permasalahan yang
dikaji menurut cara kelompok.
Berpijak pada karakteristik pembelajaran di atas, diasumsikan model pembelajaran
kooperatif mampu memotivasi mahasiswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan,
sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama secara
kreatif. Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran di berbagai bidang
4
studi atau matakuliah, baik untuk topik-topik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat
konkrit.
Kompetensi
Kompetensi yang dapat dicapai melalui model pembelajaran kooperatif disamping; (1)
pemahaman terhadap nilai, konsep atau masalah-masalah yang berhubungan dengan
disiplin ilmu tertentu, serta (2) kemampuan menerapkan konsep/memecahkan masalah,
dan (3) kemampuan menghasilkan sesuatu secara bersama-sama berdasarkan
pemahaman terhadap materi yang menjadi obyek kajiannya, juga dapat dikembangkan
(4) softskills kemampuan berfikir kritis, berkomunikasi, bertanggung jawab, serta bekerja
sama. Tentu saja kemampuan-kemampuan tersebut hanya mungkin terbentuk jika
kesempatan untuk menghayati berbagai kemampuan tersebut disediakan secara memadai,
dalam arti, model pembelajaran kooperatif diterapkan secara benar dan memadai.
Materi
Materi yang sesuai disajikan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
adalah materi-materi yang menuntut pemahaman tinggi terhadap nilai, konsep, atau
prinsip, serta masalah-masalah aktual yang terjadi di masyarakat. Materi ketrampilan
untuk menerapkan suatu konsep atau prinsip dalam kehidupan nyata juga dapat diberikan.
Materi dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti bahasa, masalah-masalah sosial
ekonomi, masalah kehidupan bermasyarakat, peristiwa-peristiwa alam, serta ketrampilan
dan masalah-masalah lainnya.
Prosedur Pembelajaran
Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran dipilahkan menjadi empat langkah, yaitu;
orientasi, bekerja kelompok, kuis, dan pemberian penghargaan. Setiap langkah dapat
dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen dengan berpegang pada hakekat setiap
langkah sebagai berikut:
5
1. Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan orientasi untuk
memahami dan menyepakati bersama tentang apa yang akan dipelajari serta bagaimana
strategi pembelajarannya. Dosen mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkahlangkah
serta hasil akhir yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa, serta sistem
penilaiannya. Pada langkah ini mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapatnya tentang apa saja, termasuk cara kerja dan hasil akhir yang diharapkan atau
sistem penilaiannya. Negosiasi dapat terjadi antara dosen dan mahasiswa, namun pada
akhir orientasi diharapkan sudah terjadi kesepakatan bersama.
2. Kerja kelompok
Pada tahap ini mahasiswa melakukan kerja kelompok sebagai inti kegiatan pembelajaran.
Kerja kelompok dapat dalam bentuk kegiatan memecahkan masalah, atau memahami
dan menerapkan suatu konsep yang dipelajari. Kerja kelompok dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti berdiskusi, melakukan ekslporasi, observasi, percobaan, browsing
lewat internet, dan sebagainya. Waktu untuk bekerja kelompok disesuaikan dengan
luasdan dalamnya materi yang harus dikerjakan. Kegiatan yang memerlukan waktu lama
dapat dilakukan di luar jam pelajaran, sedangkan kegiatan yang memerlukan sedikit
waktu dapat dilakukan pada jam pelajaran.
Agar kegiatan kelompok terarah, perlu diberikan panduan singkat sebagai pedoman
kegiatan. Sebaiknya panduan ini disiapkan oleh dosen. Panduan harus memuat tujuan,
materi, waktu, cara kerja kelompok dan tanggung jawab masing-masing anggota
kelompok, serta hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai. Misalnya, mahasiswa
diharapkan dapat mengembangkan media tepatguna dalam pembelajaran. Untuk itu,
mahasiswa secara bersama-sama perlu berdiskusi, melakukan analisis terhadap
komponen-komponen pembelajaran seperti; kompetensi apa yang diharapkan dicapai
oleh peserta didik, materi apa yang dipelajari, strategi pembelajaran yang digunakan,
serta bentuk evaluasinya. Mahasiswa juga melakukan eksplorasi untuk mengembangkan
media tepatguna. Eksplorasi dapat dilakukan secara individual atau kelompok sesuai
kesepakatan. Hasil eksplorasi dibahas dalam kelompok untuk menghasilkan media-media
6
pembelajaran tepatguna yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dosen
berperan sebagai fasilitator dan dinamisator bagi masing-masing kelompok, dengan cara
melakukan pemantauan terhadap kegiatan belajar mahasiswa, mengarahkan ketrampilan
kerjasama, dan memberikan bantuan pada saat diperlukan.
3. Tes/Kuis
Pada akhir kegiatan kelompok diharapkan semua mahasiswa telah mampu memahami
konsep/topik/masalah yang sudah dikaji bersama. Kemudian masing-masing mahasiswa
menjawab tes atau kuis untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap konsep/topik/
masalah yang dikaji. Penilaian individu ini mencakup penguasaan ranah kognitif, afektif
dan ketrampilan. Misalnya, bagaimana melakukan analisis pembelajaran? Mengapa perlu
melakukan analisis pembelajaran sebelum mengembangkan media? Mahasiswa dapat
juga diminta membuat prototype media tepatguna yang memiliki tingkat interaktif tinggi
dalam pembelajaran, dsb.
4. Penghargaan kelompok
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berhasil memperoleh kenaikan skor dalam tes individu. Kenaikan skor dihitung dari
selisih antara skor dasar dengan sekor tes individual. Menghitung skor yang didapat
masing-masing kelompok dengan cara menjumlahkan skor yang didapat mahasiswa di
dalam kelompok tersebut kemudian dihitung rata-ratanya. Selanjutnya berdasarkan skor
rata-rata tersebut ditentukan penghargaan masing-masing kelompok. Misalnya, bagi
kelompok yang mendapat rata-rata kenaikan skor sampai dengan 15 mendapat
penghargaan sebagai “Good Team”. Kenaikan skor lebih dari 15 hingga 20 mendapat
penghargaan “Great Team”. Sedangkan kenaikan skor lebih dari 20 sampai 30 mendapat
penghargaan sebagai “Super Team”.
Anggota kelompok pada periode tertentu dapat diputar, sehingga dalam satu satuan waktu
pembelajaran anggota kelompok dapat diputar 2-3 kali putaran. Hal ini dimaksudkan
untuk meningkatkan dinamika kelompok di antara anggota kelompok dalam kelompok
tersebut. Di akhir tatap muka dosen memberikan kesimpulan terhadap materi yang telah
7
dibahas pada pertemuan itu, sehingga terdapat kesamaan pemahaman pada semua
mahasiswa.
Evaluasi
Evaluasi belajar dilakukan pada awal pelajaran sebagai prates, selama pembelajaran, serta
hasil akhir belajar mahasiswa baik individu maupun kelompok. Selama proses
pembelajaran, evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap, ketrampilan dan kemampuan
berpikir serta berkomunikasi mahasiswa. Kesungguhan mengerjakan tugas, hasil
eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan atau
argumentasi, kemauan untuk bekerja sama dan memikul tanggung jawab bersama,
merupakan contoh aspek-aspek yang dapat dinilai selama proses pembelajaran
berlangsung. Sedangkan prosedur evaluasi:
1. Penilaian individu adalah evaluasi terhadap tingkat pemahaman mahasiswa
terhadap materi yang dikaji, meliputi ranah kognitif, afektif, dan ketrampilan.
2. Penilaian kelompok meliputi berbagai indikator keberhasilan kelompok seperti,
kekohesifan, pengambilan keputusan, kerjasama, dsb.
Kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi. Kriteria ini diperlukan
sebagai pedoman dosen dan mahasiswa dalam upaya mencapai keberhasilam belajar,
apakah sudah sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan.
Penutup
Model pembelajaran kooperatif tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang
ada padanya. Kelemahan tersebut antara lain terkait dengan kesiapan dosen dan
mahasiswa untuk terlibat dalam suatu strategi pembelajaran yang memang berbeda
dengan pembelajaran yang selama ini diterapkan. Dosen yang terbiasa memberikan
semua materi kepada para mahasiswanya, mungkin memerlukan waktu untuk dapat
secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Ketidaksiapan dosen untuk
mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan cara pemberian pelatihan yang
kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobakannya. Sementara itu,
ketidaksiapan mahasiswa dapat diatasi dengan cara menyediakan panduan yang antara
lain memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta
8
deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan, system evaluasi, dsb. Kendala lain adalah
waktu. Strategi pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan
fleksibel, meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua
kali tatap muka ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran.
Terlepas dari kelemahannya, model pembelajaran kooperatif mempunyai kekuatan dalam
mengembangkan softskills mahasiswa seperti, kemampuan berkomunikasi, berfikir kritis,
bertanggung jawab, serta bekerja sama. Jika kelemahan dapat diminimalkan, maka
kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil belajar yang dapat memacu
peningkatan potensi mahasiswa secara optimal. Oleh sebab itu, sangat diharapkan dosen
mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif. Dosen dapat mengembangkan
model ini sesuai dengan bidang studinya, bahkan mungkin dari model ini para dosen
dapat mengembangkan model lain yang lebih meyakinkan.

Posted August 6, 2011 by www.latahang.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: