3. E-Learning   Leave a comment

Pembelajaran Berbasis ICT (E-Learning)
La Tahang

Banyak pakar yang menguraikan pengertian e-learning dari berbagai sudut pandang. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001). E-learning juga didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, dan lain-lain (Learn Frame.Com, 2001). Definisi lain menyimpulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Penggunaan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-Room atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain sebagainya. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003).
Jaya C. Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Selanjutnya Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Teknologi Pendukung E-learning
Dalam praktiknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam per-kembangannya komputerlah yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara elektronik. Karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer dan computer assisted learning (CAL) atau pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya pada pembelajaran, maka ia akan menjadi dikenal atau populer di kalangan siswa karena berbagai variasi teknik mengajar yang bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut.
Adapun teknologi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu technology based learning dan technology based web learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technology, misalnya: radio, audio tape, voice mail telephone, dan Video Information Technologies, misalnya: video tape, video text, video messaging. Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies, missalnya: bulletin board, internet, e-mail, tele-collaboration.
Cara Pembelajaran dengan E-learning
Pada dasarnya cara pemberian pembelajaran e-learning dapat digolongkan menjadi dua, yaitu one way communication (komunikasi satu arah) dan two way communication (komunikasi dua arah). Komunikasi atau interaksi antara guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam e-learning, sistem dua arah ini juga bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu, dilaksanakan melalui cara langsung (synchronous) artinya pada saat guru memberikan pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan dan dilaksanakan melalui cara tidak langsung (a-synchronous) misalnya pesan dari guru direkam dahulu sebelum digunakan.
Adapun karakteristik e-learning antara lain yaitu: (1) memanfaatkan jasa teknologi elektronik yaitu guru dan siswa, sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; (2) memanfaatkan keunggulan komputer digital media dan computer networks; (3) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya; dan (4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memanfaatkan E-learning
Ahli-ahli pendidikan menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain:
a. Analisis Kebutuhan (Need Analysis )
Dalam tahap awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Apabila analisis ini telah dilaksanakan dan jawabannya adalah memerlukan e-learning, maka tahap berikutnya adalah membuat studi kelayakan (Soekartawi, 1995) yang komponen penilaiannya adalah:
• Apakah secara teknis dapat dilaksanakan (technically feasible) misalnya jaringan internet bisa dipasang, apakah infrastruktur pendukungnya seperti telepon, listrik, komputer tersedia, apakah tenaga teknis yang bisa mengoperasikannya tersedia, dan lain sebagainya.
• Apakah secara ekonomis menguntungkan (economically profitable) misalnya dengan adanya e-learning dapat memberikan keuntungan.
• Apakah secara sosial penggunaan e-learning tersebut diterima oleh masyarakat (socially acceptable)
b. Rancangan Instruksional
Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam menentukan rancangan instruksional (Soekartawi, et al, 1999; Yusup Hashim and Razmah, 2001) yaitu:
• Course Content and Learning Unit Analysis seperti isi pelajaran, cakupan dan topik yang relevan.
• Learner Analysis, seperti latar belakang pendidikan siswa, usia, seks, status pekerjaan, dan sebagainya.
• Learning Context Analysis, seperti kompetisi pembelajaran yaitu mengenai apa yang diinginkan hendaknya dibahas secara mendalam pada bagian ini.
• State Instructional Objectives. Tujuan instruksional ini dapat disusun berdasarkan hasil dari analisis instruksional.
• Construct Criterion Test Items. Penyusunan tes ini dapat didasarkan dari tujuan instruksional yang telah ditetapkan
• Select Instructional Strategy. Strategi instruksional dapat ditetapkan berdasarkan fasilitas yang ada.
c. Tahap Pengembangan
Pengembangan e-learning dapat dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas ICT yang tersedia. Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas ICT tidak dilengkapi dalam waktu yang bersamaan, begitu pula dengan bahan ajar dan rancangan instruksional yang akan dipergunakan hendaknya dikembang-kan dan dievaluasi secara terus menerus.
d. Tahap Pelaksanaan
Prototype yang lengkap bisa dipindahkan ke komputer (LAN) dengan menggunakan format tertentu misalnya format Hyper Text Markup Language (HTML) dan uji prototype hendaknya terus menerus dilakukan.
e. Tahap Evaluasi
Sebelum program dimulai, ada baiknya diujicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut mengevaluasi.
Proses dari kelima tahapan di atas diperlukan waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus menerus. Masukan dari orang lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara serius. Proses dari tahapan satu sampai lima dapat dilakukan berulang kali, karena prosesnya terjadi terus me-nerus.
Masalah-masalah yang sering dihadapi dalam e-learning.
1) Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
4) Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.
5) Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang ada.
6) Masalah skill dan knowledge.
7) Attitude (perilaku) terhadap ICT.
Karena itu perlu diciptakan bagaimana semuanya mempunyai sikap yangpositif terhadap ICT, bagaimana semuanya bisa mengerti potensi ICT dan dampaknya ke siswa sehingga penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pembangunan.
5. E-learning dan Internet dalam Pembelajaran
E-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi tugas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar didominasi oleh peran guru, karena itu disebut the era of teacher. Kini proses belajar dan mengajar banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi oleh peran guru, buku, dan teknologi (the era of teacher, book and technology).
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, kita sebaiknya tidak gagap teknologi.
Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Informasi sudah merupakan “komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam du-nia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju era masyarakat informasi atau masyarakat ilmu pengetahuan.
Contoh klasik yang bisa dipakai bahwa kebutuhan informasi sudah membudaya yaitu melalui pengalaman Bill Gates yang kita kenal sebagai sosok orang yang mempunyai perusahaan Microsoft Computer. William Henry Gates III atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates tersebut sebenar-nya kuliah di bidang ilmu hukum Harvard University. Ia ingin menjadi pengacara karena dengan keahlian sebagai pengacara tersebut, maka ia bisa mempunyai ’power’ untuk membantu masyarakat yang memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran.
Belajar ilmu hukum menurut dia, ternyata memerlukan waktu yang banyak untuk membaca di berbagai tempat seperti perpustakaan, toko buku, atau sumber informasi yang lain. Ia merasa waktunya habis untuk membaca saja. Di situlah ia lalu menemukan idenya mengapa informasi yang tersebar di mana-mana itu tidak dikemas saja dalam satu wadah (baca komputer) agar yang memerlukannya tidak harus ke sana kemari. Di benak Bill Gates saat itu ia memimpikan ‘how to create a tool for the information era that could magnify the brain power instead of just muscle power’ (bagaimana menciptakan se-buah alat untuk era informasi yang bisa memperbesar otak selain tenaga). Se-jak itulah The Saga of Microsoft mulai digarap. Bill Gates akhirnya menjadi orang yang sangat produktif dan output oriented. Menurut Robert Heller yang menulis buku tentang Bill Gates menyatakan bahwa Bill Gates selalu bilang “Turn your vision into reality”. Itulah sebabnya program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat jasa Bill Gates inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang ini.
Pemanfaatan e-learning khususnya internet untuk kegiatan pembelajaran saat ini dikenal tidak hanya di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, namun juga di berbagai penjuru dunia. Hal ini karena suatu kebutuhan baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan serta jawaban atas tantangan global sehingga penggunaan e-learning dalam hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peran internet. Internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaring-an yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti bahwa e-learning bisa dilakukan karena internet. E-learning sering disebut pula de-ngan nama on-line course karena aplikasinya memanfaatkan jasa internet.
Pemanfaatan internet untuk e-learning di sekolah dapat meningkat apabi-la fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infra-struktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Karena itu demi kelancaran terapan e-learning dalam proses belajar mengajar, perlu diantisipasi hambat-an-hambatan yang sering muncul seperti ketersediaan telepon dan listrik.
Penggunaan internet untuk pembelajaran sering disebut e-learning. Istilah lain untuk menamakan penggunaan internet dalam pembelajaran ialah
pembelajaran berbasis jejaring (web-based instruction), belajar on-line (online learning), ruang kelas virtual (classroom virtual), atau pembelajaran berbasis WWW (WWW based instruction). Semua istilah tersebut menyiratkan penger-tian bahwa pembelajar terpisah dari pengajar secara jarak jauh, pembelajar menggunakan teknologi untuk mengakses bahan ajar, pembelajar mengguna-kan teknologi internet untuk berinteraksi dengan pengajar dan pembelajar yang lain, dan terdapat bantuan belajar yang disediakan bagi pembelajar. Anderson & Elloumi (2004) mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan internet untuk mengakses bahan ajar, berinteraksi dengan isi bahan ajar, pengajar dan peserta ajar lainnya, dan mendapatkan bantuan belajar selama proses pembe-lajaran, untuk dapat memperoleh pengetahuan, mengkonstruksi pemahaman, dan bertumbuh kembang melalui pengalaman belajar.
E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut.
a. E-Lectures.
E-Lectures merupakan fasilitas yang menyediakan presentasi mengenai konsep atau teknik esensial yang dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat disajikan berupa tampilan teks melalui perangkat lunak untuk presentasi (misalnya Powerpoint), atau presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan gambar.
b. Discussion Forum.
Discussion forum merupakan tempat interaksi antar pebelajar dengan pe-ngajar. Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan pebelajar yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi bilamana jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c. Ask an expert.
Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses pakar dalam materi yang diajarkan secara online.
d. Mentorship.
Fasilitas ini menyediakan pembimbing online mengenai materi yang spe-sifik.
e. Local learning facilitator or tutor support.
Penyediaan fasilitator lokal atau dosen lokal yang dapat memberikan per-emuan tatap muka.
d. Access to network resources.
Fasilitas ini berisikan bahan bacaan tambah-an yang relevan dengan mata kuliah.
e. Structured group activity.
Fasilitas ini berisikan kegiatan kelompok yang terstruktur seperti diskusi kelompok kecil, seminar, presentasi kelompok.
f. Informal peer interaction.
Fasilitas ini menyediakan tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau chatt-room.

Prinsip-prinsip belajar yang perlu diterapkan pada rancangan pembelajaran dalam e-learning adalah sebagai berikut ini.
(1) Dalam rancangan seyogyanya menghindari pengajaran yang bersifat terlalu menjelaskan (instructivist) untuk hal-hal yang kurang penting, tetapi memberikan tekanan yang lebih besar pada pendekatan belajar konstruktif.
(2) Pelajar disediakan lingkungan belajar yang dapat memfasilitasi terbentuknya kelompok belajar sehingga pebelajar dapat memperoleh bantuan belajar melalui jaringan dalam kelompoknya.
(3) Pelajar disediakan kemudahan akses yang lebih besar untuk menghubungi staf akademik (pengajar) melalui jaringan elektronik.
(4) Pelajar disediakan kemudahan untuk melakukan penilaian diri (self-assesment) dan melakukan pemantauan kemajuan belajarnya.
(5) Kemudahan bagi pebelajar untuk memperoleh materi ajar dalam cara yang efektif dan memanfaatan kekayaan semua sumber belajar yang tersedia dalam jaringan, yang tidak mungkin diperoleh melalui penyajian di kelas konvensional.
Upaya membangun e-learning yang berlandaskan pada pemikiran teori belajar yang lebih bersifat holistik dilakukan oleh Dorn (2002). Kerangka berpikir yang ia ajukan ialah bahwa e-learning merupakan sistem adaptif yang dibentuk dan diubah melalui interaksi antar komponen dalam sistem tersebut. Ia mengidentifikasi empat komponen yang membentuk sistem e-learning, yaitu:
Pertama, peserta didik ialah individu atau sekelompok individu yang bermaksud belajar melalui bantuan pihak lain.
Kedua, sumber ialah segala sesuatu yang berada di luar peserta didik dari mana belajar dimungkinkan terjadi, misalnya: buku pegangan, buku teks, film, situs web, bangunan, awan, mesin, dan sebagainya.
Ketiga, konteks ialah lingkungan belajar yang berubah bilamana diterapkan e-learning; pengaturan pada e-learning akan mengontrol konteks atau lingkungan belajar tersebut.
Keempat, pengelola belajar, atau yang biasa disebut pengajar, ialah pihak
yang membantu belajar peserta didik, pengajar dapat berbentuk pengajar da-lam arti tradisional, teman atau kolega, sebaya atau yang lebih tua, atau pro-gram komputer yang memiliki sistem pakar pengajar.
Dorn menilai bahwa pembelajaran pada e-learning berbasis internet yang ada saat ini kebanyakan masih menerapkan rancangan yang mendasarkan pa-da peniruan peran guru pada pembelajaran tradisional. Dalam rancangan e-learning yang ia kembangkan, peran guru dimodifikasi dengan mendayagu-nakan kombinasi antara kecerdasan dan pengetahuan kelompok pebelajar yang terlibat dalam e-learning tersebut. Rancangan tersebut memanfaatkan melim-pahruahnya informasi dalam jaringan internet serta potensi pebelajar untuk mengorganisasikan belajar secara mandiri. Seperti yang dinyatakannya “The growth of the internet allows a range of different forms of interaction and means of information retrieval and knowledge sharing not afforded by traditional situated methods of education. (Dorn, 2002: 102). Selanjutnya, ia menyatakan bahwa e-learning merupakan lahan penelitian yang subur bilamana mem-perhatikan pendayagunaan potensi kelompok pebelajar dalam mengorganisasikan sendiri kegiatan belajarnya.
Suatu sistem e-learning yang dinamakan CoFind merupakan e-learning yang dibangunnya untuk dapat mengorganisasikan dirinya sendiri melalui ciri-ciri berikut ini:
(1) Topik.
Topik ialah pengetahuan atau perilaku yang dipelajari termasuk konsep, fakta dan prosedur. Topik tersebut diurutkan berdasarkan pilihan peserta, serta memperlihatkan topik mana yang paling populer pada suatu saat. Peserta dapat membuat topik sendiri. Topik-topik utama diajukan oleh pengelola belajar. Topik-topik akan berkembang dan menyesuaikan diri berdasarkan dinamika penilaian peserta.
(2) Forum Diskusi.
Wacana dalam forum diskusi diberi peringkat berdasarkan berapa banyak pembacanya dan penilaian kualitasnya oleh peserta. Frekuensi pembaca dan penilaian terhadap suatu wacana ditampilkan pada daftar wacana yang didiskusikan.
(3) Jadwal Kegiatan.
Peserta dapat melihat banyaknya peserta yang mengikuti suatu kegiatan dalam kalender kegiatan tersebut, sehingga kegiatan yang paling populer dapat diketahui bersama.
(4) Berita dan Pengumuman.
Tempat ini diisi oleh berita dan pengumuman yang berkaitan dengan kegiatan yang ada pada jadwal kegiatan serta undangan untuk membentuk kelompok.
(5) Daftar Peserta.
Indikator keaktifan peserta dapat dilihat pada daftar ini. Fasilitas untuk mengirimkan pesan pribadi kepada seorang peserta juga terdapat dalam tempat ini.
(6) Daftar Kelompok.
Daftar kelompok dapat diatur seperti daftar peserta. Peserta dapat mengirimkan pesan kepada kelompok tertentu dan menyusun jadwal kegiatan kelompok.
(7) Ruang untuk Omong-omong / Bercakap-cakap.
Pada tempat ini peserta dapat melakukan interaksi secara nyata dan mengorganisasikan sendiri kegiatan omong-omong / bercakap-cakap.
5. Evaluasi E-Learning
Evaluasi adalah proses pengumpulan dan analisis data mengenai suatu obyek untuk pengambilan keputusan mengani obyek tersebut. Kita mengenal evaluasi hasil belajar. Dalam hal ini, yang menjadi obyek evaluasi ialah hasil belajar siswa. Pengumpulan data dalam hal ini dilakukan melalui serangkaian ujian atau tes. Hasil ujian atau tes tersebut kemudian diolah untuk memutuskan apakah siswa tersebut lulus atau tidak, naik kelas atau mengulang kelas. Dalam evaluasi, yang menjadi obyek dapat berupa orang, benda, idea, program, kegiatan, atau alternatif.
Jenis keputusan yang dilaksanakan akan menentukan jenis evaluasi. Evaluasi formatif berkaitan dengan keputusan untuk perbaikan. Evaluasi sumatif berkaitan dengan keputusan akhir terhadap suatu obyek yang dievaluasi. Contoh evaluasi formatif ialah pengumpulan dan analisis data yang diperoleh melalui ulangan harian mengenai suatu topik materi ajar yang digunakan untuk memutuskan apakah materi ajar tersebut diulang pengajarannya dengan perbaikan pada cara penyampaian atau tidak perlu diulang. Sedangkan contoh evaluasi sumatif ialah pengumpulan dan analisis data yang diperoleh melalui ujian akhir. Keputusan yang dibuat dari evaluasi sumatif ini adalah final, apakah siswa lulus atau tidak lulus.
Evaluasi e-learning merupakan evaluasi terhadap program pembelajaran yang dilaksanakan berbasis internet. Beberapa kriteria yang digunakan untuk evaluasi e-learning ialah: (1) kriteria organisasi, (2) kriteria teknis, (3) kriteria rancangan pembelajaran, (4) kriteria latihan dan umpan balik, (5) kriteria penggunaan, (6) kriteria media, (7) kriteria navigasi dan kendali, (8) kriteria motivasi, dan (9) kriteria kolaborasi dan konstruktif.

Posted August 6, 2011 by www.latahang.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: